Mayday, Mayday – I’m Behind

These are a few items which have caught my interest recently yet have been a tad too busy to catch up with and write fully about.

1. The Thinking Indonesian's Paper, Kompas, had the following headline in Thursday's edition.

Bule Bawa Ganja ke Bali Dituntut 7 Bulan

When it's an Indian, Malaysian or other nationality who gets busted for drugs, the articles do not refer to their skin colour. But when it's an Australian (German, Brit etc.) ….

I've said it before – and no doubt I'll say it again – but skin colour is irrelevant and has no bearing in terms of morality, criminality or whatever, and using the word bule (pron. bu-lay) merely indicates the user's inherent racism.

I sent an email regarding this to various correspondents and here is a selection of their replies.

Yes, not good journalism, although 'Bule' is not derogatory, as far as I understand the term.
I think it is relevant. I always thought it meant 'albino' and since I am always so ghostly pale, I have never really objected to the term but yes – not good to print it in the newspaper …

[My husband] is always going on about ‘dumbing down’ and standards dropping – if no one comments then it will be accepted and they might start doing it on a regular basis …

I was tempted to blog this myself, but nah! Although it does feed into this belief that Indonesians (and some others) offer up that the word does not have racial connotations or undertones… Besides, it is hard to get reasoned debate on this one.

I have read the article. Well, what can I say about the "system" which we all know is totally rotten to the core.
My opinion? "Majukan dong!"

So, moving on …

2. In basic music terms, I'm a jazz fan. I'm not referring to the lounge or elevator variety as epitomised by Kenny G, but the kind where risks are taken. Riza Arshad and Tohpati have fused Indonesian 'ethnic' instrumentation with their sublime creativity. Riza has recently been involved in an album, Ubiet's Kroncong Tenggara, and Tohpati has his Ethnomission.

Together, they are key personnel of simakDialog whose last two albums were released on the New York-based label MoonJune.

Leonardo Pavkovic, the founder and continued catalyst behind MoonJune, is trying to arrange a tour of Europe and the USA for them, and needs to get government sponsorship. (I have yet to confirm that he means the Indonesian government.)

L. has written to say that you can help by voting in the Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA) 2010.

SimakDialog's nominated track is Disapih from their album Demi Masa released in 2008. (This begs the question as to why a track wasn't selected from Patahan which was released last year!)

You can watch a live version of Disapih on You Tube: Part 1 and Part 2.

3. Another update on the Balikpapan Bay Bridge Project

Why oh why can I find no interest here in Jakarta, or in local media? Out of sight, out of mind?
I don't usually post in Indonesian, but this is what I received from a correspondent in the Czech Republic. (Go figure that one!)

Pak Gubernur Awang Faroek baru saja menerima anggaran APBN untuk membangun Jembatan Pulau Balang, yang akan menyebabkan kerusakan ireversibel Hutan Lingung Sungai Wain dan Teluk Balikpapan. Namun pemerintah daerah masih berani melakukan negosiasi untuk opsi alternatif, yang bisa melestarikan seluruh wilayah.

Tolong membantu kita untuk menyimpan suatu tempat yang indah. Ini adalah kesempatan terakhir sekarang! Ada beberapa hal yang Anda bisa melakukan dengan mudah:

1. Tolong menulis kepada pemerintah provinsi, meminta Pak Gubernur Awang Faroek untuk memikirkan kembali rencananya untuk membangun jembatan Pulau Balang. Jelaskan kepada pemkab Anda tidak percaya bahwa perencanaan pelestarian lingkungan sepanjang jalan dan jembatan Pulau Balang cukup matang. Hutan Lindung tidak bisa dilestarikan cuma dengan pagar kiri kanan jalan, seperti yang direncanakan oleh provinsi! Perusakan wilayah yang sangat unik akan merusak citra Provinsi sebagai Kaltim Hijau, yang akan menjadi Kaltim Coklat atau Merah Kekuningan! Alternatif yang ramah lingkungan adalah Jembatan Tg. Batu – G. Seteleng. Untuk mengontak pemprov, Anda bisa menggunakan link ini.

2. Tolong menulis kepada Pemerintah Balikpapan dan walikota Pak Imdaad Hamid untuk mengucapkan terima kasih atas perhatian lingkungan hidup dan upaya mereka untuk menghentikan rencana pembangunan Jembatan Pulau Balang. Untuk mengontak pemkot Balikpapan, Anda bisa menggunakan Buku Tamu pada link ini.

3. Tolong menulis surat kepada Bupati Penajam Paser Utara, Pak Andi Harahap, mendukung beilau untuk mengejar upaya awal untuk membangun jembatan langsung antara Balikpapan dan Penajam, tapi menunjukkan bahwa opsi Tg. Bati – G. Seteleng akan menjadi alternatif yang lebih baik dibandingi dengan opsi Nipah-Nipah – Melawai, karena tidak akan melewati pusat kota dan karenanya juga akan berlalu bagi kendaraan besar. Untuk mengontak pemkab PPU, Anda bisa menggunakan Buku Tamu pada link ini.

4. Tolong menulis komentar ke artikel-artikel online, menerangkan bahwa bukan hanya orang asing tetapi juga masyarakat setempat peduli lingkungan dan memahami bahwa Jembatan Tg. Batu – G. Seteleng adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan Jembatan Pulau Balang. Artikel-artikel disebut dapat ditemukan disini, disini, disini, dan disini.

5. Share artikel-artikel ini pada Facebook Anda.

Bersama, kita masih bisa menyelamatkan Teluk Balikpapan dan Hutan Lindung Sungai Wain!

4 Responses to “Mayday, Mayday – I’m Behind”

  1. dakwah islam says:

    Kenapa pembangunan di luar Jawa dipermasalahkan? Dan kerusakan pulau Jawa di biarkan.

  2. Jakartass says:

    My rough translation of Dakwah Islam's comment:

    "Why is development outside (the island of) Java a problem? And why don't people care about the problems on Java?"

    D. is writing from Sidoarjo, site of the mudflow in East Java, which I've written about, or mentioned, some 50 times on this blog (out of 1,600+ posts) in the past four years.

    Check this post out, D.

    As for the Balikpapan development, I was interested to learn this past week that Bakrieland, owned by the family of that ugly man Abdurizal Bakrie – and I'm referring to his morals rather than his enormous chin, has a development in Balikpapan comprising 302 serviced residences and hotel suites.

    Could they be for the influx of non-Kalimantans expected to get even richer from the proposed 'development' in Balikpapan Bay?

    That Bakrie has gone 'green' "by applying solar energy system in all Bakrieland projects" is probably the first time that I've found anything positive to say about AB and his ilk.

    So why is a major source of his family's wealth the mining of coal for power stations?

    D. That I've taken an interest in the Balikpapan Bay bridge project is because it hasn't been taken up as a 'cause' by the national media.

    However, I'm concerned about any development anywhere which causes harm to the world we live in.

  3. leo says:

    Kelihatannya pembangunan Jembatan Pulau balang banyak mendapat kecaman LSM lingkungan, Seharusnya Pembangunan jembatan ini didukung semua pihak karena manfaatnya besar bagi perekonomian daerah dan masyarakat sekitarnya dan kalimantan secara umum, memang setiap pembangunan selalu ada efek negatipnya dan pembaguna jembatan ini sudah berlangsung dan harus disadari oleh semua pihak. Semoga pemerintah daerah mengurangi efek negatip dengan meniru negara2 lain dengan merelokasi dan memindahkan satwa yang ada ke tempat lain dan LSM bisa dilibatkan.

  4. Stan Lhota says:

    Kalau kita lihat kondisi di lapangan, hampir tidak ada yang mendukung pembangunan Jembatan Pulau Balang. Tidak ada satupun LSM yang mendukung. Survwy wawancara yang sedand dilakukan membuktikan bahwa kurang daripada 10 % masyarakat ingin Jembatan Teluk Balikpapan dibangun di lokasi Pulau Balang yang sangat jauh dari Balikpapan dan Penajam (terkecuali beberapa orang yang membeli tanah di sana 10 tahun yang lalu dengan harga serendah 1 juta per hektar, dan sedang tunggu harga itu naik…). Pemerintah Balikapapan dan Penajam juga ingin membangun Jembatan dari Balikpapan langsung ke Penajam, tidak lewat P. balang. Analisis kelayakan dan ekonomi juga membuktikan bahwa alternatif yang lebih dekat kota lebih efisien. Untuk lingkungan Jembatan Pulau balang adalah bencana, sambil alternatif yang lain cukup ramah lingkungan. Susah mengerti kenapa pemprov tetap melanjut promosi Jembatan Pulau Balang, atas nama masyarakat whalaupun masyarakat sebenarnya ingin jembatan dibangun di lokasi lain…

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree

-->